Amarilis di Jogya mekar lagi. Boleh foto tapi jangan ngerusak, ya

Amarilis termasuk dalam suku bakung-bakungan yang ternyata termasuk tanaman pengganggu di lahan pertanian. Padahal bunganya cantik, ya, tapi tanaman ini ternyata sering mengganggu pertumbuhan tanaman palawija.

Sumber: okeinfo.net

Sebelum tahun 2015, tanaman ini memang dikenal sebagai hama. Namun, sejak Sukadi, salah satu warga di Gunung Kidul, menanam ribuan amarilis di pekarang rumah, bunga ini menjadi pujaan. Bunga berwarna oranye yang terhampar di kebun warga memang terlihat menakjubkan sehingga menarik perhatian warga. Pengunjung pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk berfoto dengan latar belakang bungan amarilis.

Sebenarnya di balik tenarnya amarilis ada peristiwa yang tidak mengenakkan. Taman bunga yang dipenuhi amarilis memang menjadi tempat berfoto yang keren. Sayangnya beberapa pengunjung tidak menjaga bunga-bunga itu dengan baik. Tanaman amarilis yang indah itu pun hancur karena terinjak-injak, bahkan ada yang berfoto dengan rebahan di atasnya. Apa perlu kasih pengumuman kalau tanaman bunga itu bukan kasur? Berita hancurnya taman ini sempat viral di media sosial. Tidak hanya traveller sejati yang sedih, saya yang tidak pernah ke mana-mana meski bercita-cita keliling dunia pun ikut ‘menangis’ melihatnya.

Sekarang bunga amarilis kembali bermekaran. Sudah banyak warga di Gunung Kidul yang menanam amarilis di pekarangan rumah dan kebun. Bunga ini hanya mekar setahun sekali saja. Jadi kalau ingin berkunjung untuk menikmati indahnya amarilis, cari informasi yang valid ya, supaya tidak kecewa karena amarilis hanya mekar selama dua sampai tiga minggu saja. Masa tunggunya lama banget, ya, selama satu tahun, padahal mekarnya hanya dua sampai tiga minggu saja. Umumnya bunga amarilis mekar pada saat awal musim hujan, sekitar awal November-Desember gitu.

Sumber :nusabudidaya.com

Salah satu lokasi yang bisa dikunjungi untuk melihat hamparan amarilis ini di Desa Deli, Kecamatan Patu, Yogyakarta. Jangan khawatir, tiket masuknya terjangkau, kok, sekitar Rp.10.000,- saja per orang. Malah ada yang memasang tarif seiklasnya. Jangan lupa biaya parkirnya, ya.

Kalau ingin menanam amarilis di rumah, kita bisa membeli bibitnya pada warga yang menjualnya. Tapi saya sendiri tidak tahu, apakah komposisi tanah dan suhu udara yang berbeda mempengaruhi pertumbuhan tanaman amarilis? Tidak ada salahnya mencoba menurut saya. Toh, bibitnya dijual dengan harga yang terjangkau yang menurut news.detik.com, harganya sekitar Rp2.000,- sampai Rp.3.000,- saja.

Kalau ingin ke sana buruan, ya, nanti keburu momen mekar bunganya berlalu, lo. Kita bisa foto-foto sepuasnya di sana, tapi jangan lupa untuk menjaga tanaman-tanaman amarilis supaya tetap indah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *