Family Vacation

Perhatian: Artikel ini menggunakan bahasa yang tidak baku dan tidak mengikuti kaidah yang berlaku. Mohon jangan menyesal jika terlanjur membaca.

Rekresi keluarga, itulah artinya. Pastinya setiap keluarga, minimal sekali, pernah melakukan kegiatan yang bernama rekreasi ini. Entah itu rekreasi yang biayanya patungan bersama warga RT, rekreasi karena desakan keluarga besar, atau memang sudah diniati mau rekreasi keluarga kecil. Entah itu rekreasinya ke pantai, ke kebun binatang atau wisata lokal saja ke desa tetangga yang kebetulan ada kebun buah.

Memang yang namanya rekreasi itu waktunya seneng-seneng, hepi, gembira. Meski bagi emak-emak dengan anak kecil seperti saya itu rekreasi identik dengan bergembol-gembol bawaan di depan, belakang, samping kanan, dan samping kiri. Rekreasi juga waktu yang tepat untuk mengeluarkan tenaga extra (yang positifnya dapat membakar lemak) untuk mengawasi dan ngeladeni (melayani) anak-anak: minta minum lah, suapin lah, ke kamar mandi lah, dan segala ngak ngek lainnya. Suami memang turut membantu. Tapi, di mana-mana itu yang dicari anak ya emaknya. Hidup emaaak. Meski ada juga yang lebih nyari bapaknya karena lagi pengin dimanja.

Belum lagi bagi seorang introvert seperti saya ini. Kegiatan di luar itu seperti anak sekolah yang menghitung kapan bel pulang berbunyi. Kalau nggak percaya, coba deh, tanya teman yang asli introvert, bukan ambivert, apalagi extrovert yang ngaku introvert. Seorang introvert itu merasa nyaman kalau berada di rumah apalagi ndekem di dalam kamar (meski aktivitas ini bakal langka bisa terjadi pada seorang emak).

Yang harus diingat adalah, apakah rekreasi ini benar-benar ajang untuk melepas lelah, atau hanya salah satu upaya untuk eksis di setiap obrolan? Just be your self. Nggak papa dibilang nggak update, nggak kekinian, nggak gaul, kalau memang tidak ingin pergi ke suatu tempat karena alasan tertentu. Nggak papa kalau refreshingnya Cuma muter-muter naik motor keliling kompleks dan berakhir dengan makan mie ayam atau bakso.

Tenang saja, Sob. Bahagia itu datang dari berbagai cara. *Ini bukan kalimat pembelaan lo yaaa

Memang beneran kok. Bahagia kalau anak rajin sholatnya, anak rajin ngajinya. Bahagia pas hujan deras Alhamdulillah berkumpul di rumah dengan suami dan anak, bercanda-canda sambil nggayemi gorengan yang hangat kemebul. Bahagia dengan banyaknya rezeki yang berlimpah, kesehatan, kemudahan, kebahagiaan, dan hal-hal yang baik termasuk celengan yang selalu penuh dan terus bertambah.

Aamiin-in aja yes J

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *