Kok Elu Sukses Duluan?

Beberapa waktu lalu, saya mengisi materi sejam bersama Honey Dee di sebuah grup WA. Ada pertanyaan yang lucu:

“Mak, tahun 2016 kita sekelas di kelas menulis. Kenapa di kelas yang isinya ratusan orang itu emak yang duluan terkenal?”

Waktu itu saya bingung mau jawab apa soalnya saya merasa belum terkenal, masih banyak sekali yang belum mengenal saya. Mungkin saja kita berada di saluran yang sama sehingga rasanya saya mencolok banget di saluran ini. Padahal, masih banyak saluran lain dan I am definitely nothing di sana.

Lalu, saat kelas berakhir, saya melakukan kontemplasi apa sebenarnya yang membuat penulis pemula mandek? Di antara ratusan teman saya di kelas menulis tersebut, kenapa hanya sedikit sekali yang bisa sukses? Padahal, kalau dilihat-lihat banyak sekali yang berkesempatan untuk melejit tinggi. Ada banyak yang punya potensi dan waktu luang (kalau bisa chat berjam-jam setiap harinya berarti waktu luangnya cukup banyak, kan?)

Lalu saya melakukan penelitian pada akun-akun media sosial penulis pemula. Cukup banyak yang saya amati saat itu. Ini bukan justifikasi. Ini hanya hasil pengamatan saya yang siapa tahu bisa menjadi pencerahan untuk diri saya sendiri dan teman-teman lain. Saya merasa tidak produktif juga soalnya akhir-akhir ini.

Apa saja yang membuat penulis pemula gagal dalam karir kepenulisan?

1. Kebanyakan ikut komunitas
Memang, komunitas online ini bagus sekali untuk mengumpulkan informasi dan menunjang karir. Namun, kita harus tahu juga apa faedahnya kita di komunitas tersebut. Banyak orang yang saking senengnyabikut komunitas akhirnya sibuk sama sosialisasi, bukannya nulis. Banyak yang lebih menikmati haha-hihi, rumpi-rumpi, bukannya membidik target dengan jelas.

Kadang, saya merasa banyak orang di komunitas yang menjerumuskan (entah sengaja atau tidak). Bukannya berbagi semangat dan motivasi, di grup malah bilang, “aku sih santai saja. Buat apa ngoyo? Hidup ini untuk dinikmati.”

Eh tapi ternyata di belakang dia giat ikut ini-itu. Jadi ngomong begini biar teman yang lain selow sementara dia ngebut buat mendahului yang lain, banyak yang kayak gini.

Sebelum memutuskan untuk gabung atau jika sekarang teman-teman
A. Apakah komunitas tersebut memberikan informasi?
B. Apakah komunitas tersebut menjadi jembatan untuk karir?
C. Apakah komunitas tersebut memberikan motivasi?
D. Apakah komunitas tersebut membuat kita jadi lebih damai dan bersemangat?
E. Apakah komunitas tersebut membuat kita jadi lebih baik?

Jika ada komunitas yang tidak masuk dalam kriteria di atas, saya akan meninggalkannya. Apalagi komunitas yang isinya mak emak gibah mulu 🙈 yaelah… apa yang kita harapkan dengan ngomongin orang?

2. Kebanyakan ikut training online
Training online ini BAGUS BANGET. Kita bisa belajar dengan arahan mentor tanpa repot ke luar rumah. Asyik!

Sayangnya, banyak penulis pemula kebanyakan duit yang justru kecanduan training online. Sayangnya, dia tidak mengimbangi dengan praktik yang cukup. Akhirnya, setelah ikut training semua menguap begitu saja.

Percuma dan tak berguna akhirnya uang yang dihabiskan untuk training tersebut.

Bee, lihat-lihat kalau ikut training. Lihat bagaimana mentornya. Apakah mentornya bisa menggembleng kita biar bisa jadi lebih baik?

Soalnya, kalau sibuk sama tugas-tugas training online mulu, kapan kita punya waktu untuk mengerjakan target kita sendiri?

Saya dulu targetnya membidik penerbit mayor. Jadi, saya habiskan satu minggu untuk meneliti soal penerbit mayor apa saja yang ingin saya masuki. Alhamdulillah, semuanya ditolak.

Dari penolakan ini, saya mendapat banyak masukan untuk memperbaiki naskah. Justru penolakan inilah guru yang sebenarnya. Alhamdulillah sekarang malah dicari.

3. Kebanyakan menyimpan penyakit hati
Nah, ini masalah kebanyakan penulis pemula. Mereka membandingkan dirinya dengan role model. Namun, bukannya belajar dari role model tersebut, mereka kebanyakan membandingkan tulisannya dengan role model tersebt

“Dia kok bisa begini. Aku kok nggak bisa begitu. Jangan jangan aku nggak berbakat.”

“Dia kok bisa kayak gitu banget. Sombong. Aku juga bisa kok.”

“Moga aja bisa nular suksesnya kalau aku deket-deket sama dia.”

Bee, menulis buku itu beda dengan pilek atau herpes yang bisa ditularkan hanya dengan menempel pada orang yang sukses berpenyakit. Buktinya, suami saya yang tiap hari nempelin saya sama sekali nggak bisa nulis atau baca buku.

Kalau ada yang sukses, tempelin sambil peras ilmunya. Pelajari bagaimana dia mendapat kesuksesannya dalam menulis buku. Dulu saya sih gitu. Saya banyak tanya ke penulis yang saya anggap senior. Dengan muka badak saya inbox untuk tanya mengenai hal yang ingin saya ketahui seputra dunia kepenulisan. Ini saya catat dan saya telaah kembali. Amalan apa yang telah dilakukannya agar sukses. Alhamdulillah … ada banyak sekali informasi yang saya dapatkan waktu itu, termasuk skandal dalam dunia kepenulisan yang bikin saya jadi prepare terhadap kejatuhan dan atau orang-orang yang menjatuhkan.

4. Kebanyakan alasan
Ceritanya pengin jadi penulis, tapi kalau disuruh nulis alasannya buanyak banget. Disuruh baca katanya nggak punya banyak waktu karena sibuk ini itu. Katanya nggak ada waktu, tapi di beranda muncul terus namanya komen di sana-sini.

Kalian tahu nggak sih kalau teman kita bisa melihat di mana saja kita komen? Apalagi kalau mutualnya banyak. Wesss kelihatan terus.

Ya kalau memang menunggu adanya waktu luang, nggak bakalan ada yang jadi penulis. Wong rata-rata penulis itu kerja demi bisa hidup. Kalian tahu kan kalau royalti penulisbitu cuma 10% dari harga buku terus dipotong 15% PPh? Udah gitu dibayarinnya setiap 3 bulan-6 bulan sekali. Sisanya makan angin.

Banyak penulis yang harus jadi penulis sekaligus kerja. Bahkan banyak penulis sukses di Wattpad itu yang nulis sambil kerja dan kuliah. Hmmm… kurang heboh gimana cobak hidupnya?

Tapi mereka bisa. Mereka masih aktif di media sosial, update wattpad, dan menyelesaikan naskah offline. Mantap kan ya?

5. Kebanyakan menggampangkan sesuatu
“Ah gampang masih tanggal 30 kok deadline nya. Bisa dugem dulu hari ini.”

“Masa sih self editing doang butuh waktu dua bulan?”

“Tinggal kirim naskah doang, kan?”

“Easy, risetnya nanti tinggal googling aja.”

Akhirnya naskah yang dikirim ke penerbit adalah naskah berantakan yang masih butuh banyak sekali polesan di sana-sini. Gimana penerbit tega mau nerima naskah kita?

Nama belum punya.
Skill masih terbatas.
Jam terbang masih rendah.
Sudah sombong dengan menggampangkan sesuatu.
Jangan ya, Bee.

Sebenarnya, ada hal yang sangat mudah menjadi penulis hanya dengan modal tiduran. Bermimpilah!

Kayak saya yang pengin banget ngegym tapi terlalu malas untuk bergerak. Jadilah suatu malam saya bermimpi ngegym. Alhamdulillah… ruh saya sixpack.

Yah… walau raga saya masihh gendut, yang penting ruh saya sudah berotot kan?.

Sekian materi dari saya. Semoga bisa memberikan motivasi dan kebaikan bagi teman-teman yang membutuhkan.

 

Salam sayang,
Honey Dee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *