Membuat Outline

Minggu kemarin ada yang bertanya tentang bagaimana cara membuat outline yang ajeg biar nggak stuck di tengah jalan saat membuat cerita yak?

Oke. Hari ini kita bahas.

Kalau untuk cerpen, outline ini berupa kerangka karangan. Cerpen tidak membutuhkan banyak tokoh yak. Cerpen juga tidak membutuhkan banyak setting tempat. Fokuskan cerpen pada adegan tertentu yang mampu membangkitkan emosi pembaca. Jangan terlalu heboh bertele-tele menjelaskan bagaimana latar belakang tokoh dalam cerita sampai ke kakek-nenek segala.

Nah, karena novel ini butuh banyak keterangan mendetail yang mendukung plot utama dan membuat tokohnya nampak hidup, kita perlu bank data untuk mengumpulkan semua informasi ini dalam satu paket.

Ini yang namanya outline.

Dalam membuat outline, saya biasanya mengawali dengan membuat alurnya dulu. Perkenalan tokohnya bagaimana? Konfliknya bagaimana? Siapa tokoh yang terlibat? Di mana settingnya? Apa yang ingin saya sampaikan dalam cerita?

Dari awal sampai ending tuh sudah saya pegang dan sudah saya buat flow chart-nya. Jadi nggak ada ceritanya stuck karena “nggak tahu gimana endingnya.”

Setelah itu, saya membuat berbagai macam mindmap

  1. Hubungan antar tokoh

Ini dimaksudkan agar tidak ada tokoh yang muncul tiba-tiba dan ternyata nggak ada gunanya dalam cerita.

  1. Timeline

Ini gunanya agar kita bisa mengatur waktu kejadian agar tidak saling tumpang tindih. Pengaturan waktu yang salah bisa memicu logical fallacy atau cacat logika dalam cerita.

  1. Tempat-tempat yang dijadikan adegan

Sekalipun tempatnya nggak dijelaskan detail dalam cerita, cobalah untuk menggambarkan dengan detail di outline. Misalkan bagaimana pencahayaan di ruangan itu? Bagaimana suhunya? Apakah memungkinkan bagi tokoh untuk saling menatap dengan ekspresi yang jelas?

Kan nggak lucu kalau kalian membuat cerita pesta kebun untuk meryakana valentine pada bulan Februari di London. Lalu, tokoh utama berdansa dengan menggunakan stilleto dan strapless dress. Bisa jadi es lilin nanti tokoh utama kalian.

  1. Data pendukung

Membuat cerita itu berbeda dengan membuat buku ensiklopedia. Kalian nggak perlu menjelaskan detail tentang tempat kejadian sampai ke asal usulnya, apalagi jika kemampuan tokoh utama tidak sampai sedalam itu.

Misalkan kalian membuat seorang imigran asal Indonesia lulusan SMP yang terjebak di negeri asing (sebutlah Kanada) dengan POV 1. Kan rancu kalau dia ternyata mengetahui seluk beluk Kanada itu sampai ke siapa presidennya. Cobalah melihat dengan kacamata tokoh utama.

Saat berkunjung ke London, Glacie mengaku nggak banyak menyimak kondisi di sana walau Heath sudah menjelaskan sampai berbusa. Ini karena dia sibuk fall in love dengan Heath. Tahu kan gimana anak gadis fall in love? Biar kata ada perang juga dia nggak bakal peduli asal cowoknya masih di sisi.

Contoh lain, cewek model seperti Savanna yang nggak pernah bisa hapal jalan dan lebih suka nongkrong di kamar untuk baca buku, jelas nggak akan bisa menunjukkan jalan kalau ada orang yang tanya. (Kaya saya. Ada yang tanya saya nggak tahu ternyata tetangga sendiri)

Nah, data seperti ini yang harus teman-teman pegang biar ceritanya bisa makin hidup.

Untuk bisa membentuk semua ini, jangan jadi penulis sombong yang nggak mau membaca tulisan orang lain. Perbanyaklah membaca apa saja. Nggak usah pilih-pilih. Baca dan pelajari ciri khas apa yang dimiliki oleh penulisnya. Ini akan membuat kita jadi semakin kaya.

Dulu saya mah tiap ada tulisan saya baca, apalagi kalau tahu tulisan itu banyak disukai. Saya pelajari apa sih kira-kira yang bikin orang suka sama tulisan itu?

  1. Alur per bab

Biar nggak stuck, coba deh bikin alur per babnya. Entar pas nulis bakalan mulus kaya rambut abis di-smoothing.

Untuk teman-teman yang nggak suka bikin outline, ya nggak apa-apa sih. Setiap penulis punya gaya sendiri. Saat membuat #FilthyShadeofDrey #Savanna dan #nastyGlacie saya juga nggak membuat outline. Makanya nggak bisa memperkirakan seberapa panjang ceritanya di Wattpad.

Untuk cerita yang lebih serius, saya menggunakan outline ini dan ternyata memang selesainya lebih cepat, riset lebih mendalam, dan penjabarannya bisa lebih detail karena kita sudah memegang semua data yang diperlukan dalam pembuatan cerita tersebut. Intinya, world buildingnya sudah baguslah. Kita juga bisa menilai semua plot hole yang ada dalam cerita itu dan nggak iseng memasukkan tokoh baru .

Bagaimana? Sudah siap membuat outline untuk cerita kalian?

 

With love,

Honey Dee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *