Penulisan Kalimat

Banyak penulis pemula yang bingung cara memperbanyak pembaca. Mereka memikirkan cara menarik pembaca dengan promosi gila-gilaan. Sayangnya, mereka gagal. Nggak ada yang mau membaca ceritanya. Jadilah mereka menyalahkan pembaca yang lebih suka cerita mainstream dan bla bla bla lainnya.

Padahal, bisa jadi penulisan dan pembuatan kalimat di dalam cerita yang kita buat ternyata belum bagus. Yang baca akhirnya puyeng sendiri. Huhuhu…

Coba yuk… kita belajar soal penulisan kalimat.

Kalimat Tunggal dan Kalimat Majemuk.

Kalimat Tunggal adalah kalimat yang hanya terdiri dari satu pola kalimat, yaitu satu subjek dan satu predikat. Dapat juga ditambahkan dengan Objek, keterangan, dan pelengkap.

Contoh :
Dia menangis. (Ini adalah kalimat sederhana.)
Dia menangis sampai malam. (Ini adalah kalimat yang terdiri dari Subjek, predikat dan keterangan waktu)
Dia menangis di tempat tidur. (Ini adalah kalimat yang terdiri dari Subjek, predikat, dan keterangan tempat)

Mudah, bukan?

Pokoknya, kalimat tunggal itu semua serba satu. Subjeknya satu, objeknya satu, dan predikatnya juga hanya satu.

Oke?

Sekarang …

Kalimat Majemuk.
Kalimat majemuk adalah kalimat yang terdiri dari lebih dari satu klausa. Kalusa tersebut terdiri dari anak klausa dan induk klausa.

Klausa adalah satuan gramatikal yang berupa kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.

“Dia menangis.” tadi adalah satu klausa. kalau mau dijadikan kalimat majemuk, kita bisa menambahkan dengan:

Dia menangis sambil merutuki nasibnya.

Kalimat ini sebenarnya adalah gabungan dari dua kalimat. Dia menangis dan Dia merutuki nasibnya. Daripada dipisah, akan lebih bagus dan jelas jika ditambahkan kata sambung (kongjungsi) “sambil” yang menyatakan kesetaraan perbuatan.

Sampai sini sudah paham?
Mau contoh lagi?
Baik.

Contoh lain:
Aku mengerti yang sebenarnya dia inginkan.

Dalam kalimat ini, tidak ditemukan kata kongjungsi atau kata hubung. Tapi majemuknya kalimat ini dikarenakan keterangan objek.
aku= subjek
mengerti= predikat
yang sebenarnya dia ingikan= keterangan objek

Nah, dari keterangan objek ini, bisa kita pecah lagi, kan?
dia= subjek
inginkan= predikat

Jadi deh dua kalimat.

Pokoknya, dalam kalimat majemuk tuh ada pola subjek dan predikat lain yang muncul.

Nah, bagaimana kalau begini:
Bree memberikan kertas dan bolpen itu kepadaku.

(Ngapain, Bree? Buat tanda tangan surat nikah? wkwkwk)

Dalam kalimat tersebut, ada dua pola:
Bree memberikan kertas kepadaku.
dan
Bree memberikan bolpen itu kepadaku.
Kata penghubung (dan) ini digunakan untuk mengambil objeknya saja soalnya yang lain kan sudah sama. Jadi dihilangkan saja. Disederhanakan menjadi:
Bree memberikan kertas dan bolpen itu kepadaku.

Okeh?
Sudah paham?

Jangan lupa dalam setiap kalimat harus diakhiri dengan tanda baca titik (.), tanda tanya (?) atau tanda seru (!) untuk menunjukkan bahwa kalimat tersebut sudah berakhir, sekaligus untuk menunjukkan sifat kalimat tersebut. Tanda bacanya pilih salah satu saja, ya. Jangan sampai dua nanti mereka berantem. Kita aja nggak mau diduakan, kan?

Wkwkwkwk…

Bagaimana dengan tanda baca ganda (?!)?

Tanda baca ini disebut interobang yang menunjukkan kalau kalimat itu bukan hanya kalimat tanya, tapi juga seruan.

Contoh:

Maumu tuh apa?!
Apa?! Kamu jadian sama Aldi?

Jangan berlebihan memberi tanda baca, ya, biar yang baca mengerti. Kalau berlebihan, salah-salah pembacanya malah gagal paham.

Seperti titik tiga (…) ini namanya elipsis. Jangan ditambah sampai sepuluh yak. Hihihi… kalau elipsis bertemu dengan titi akhir kalimat, jadinya empat (….) dah maksimal ini. 😅

Bagaimana? Karya tulis kalian apakah sudah sesuai dengan aturan ini?

Salam sayang,
Honey Dee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *